Jum. Jul 19th, 2019

Sidang Lanjutan Mingho, Saksi Tidak Mengetahui Permasalahan Sebenarnya

4 min read
Lanjutan Sidang Mongho

Lanjutan Sidang Mongho

Bagikan ini...

Sorong,CE- Setelah sidang Pemeriksaan setempat pada Selasa (18/06/2019) sore, Majelis Hakim yang dipimpin Hanifzar, S.H., M.H kembali melanjutkan persidangan, Rabu siang (19/06/2019) dengan agenda pemeriksaan saksi.

Tiga saksi dari Penegak Hukum (Gakkum) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dihadirkan Tim Jaksa Penuntut Umum di persidangan.

Para saksi yang dihadirkan merupakan satu tim dalam pengungkapan perkara Jaksa Penuntut Umum mengusulkan kepada Majelis Hakim agar saksi diperiksa sekaligus. Meskipun tidak ada keberatan dari Penasihat Hukum terdakwa, Ketua Majelis Hakim, Hanifzar tetap memeriksa saksi terpisah.

Saksi pertama yang dihadirkan ke persidangan, yakni Asa Yulianto menerangkan permasalahan yang terjadi terkait pengangkutan kayu yang tidak prosedural. Karena saat penyitaan kayu dirinya berada di Surabaya.

Kayu milik terdakwa diangkut dari Sorong ke pelabuhan Tanjung Perak oleh kapal Oriental Gold milik perusahaan SPILL. Kayu yang berada di dalam kontainer yang berada di depo milik SPILL berisikan kayu moulding. Jumlah kontainer 135 milik CV Sorong Timber Irian (ATI) dan 46 kontainer kayu milik CV Alco Timber Irian (STI), yang mana total jumlah kontainer 181.

Setelah mengamankan kayu, saksi bersama atasannya meminta data angkut kayu dari perusahaan jasa angkut SPLL. Sementara data kayu yang diangkut saya tidak tahu menahu. Saksi kembali menerangkan tidak tahu siapa pemilik 181 kontainer kayu merbau.

Dicecar pertanyaan oleh majelis hakim soal kayu yang tidak prosedural, secara detail saksi mengatakan tidak tahu. Namun, sebelum mem-police line 181 kontainer kayu, terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak SPILL.

Soal dasar hukum mem-police line kayu milik CV Alco Timber Irian dan CV Sorong Timber Irian, karena diduga kayu-kayu tersebut merupakan hasil pembalakan liar. Saksi hanya ikut mengamankan kayu yang di police line.

Tim gabungan yang melakukan penyitaan kayu, termasuk didalamnya Direktorat PPH, penyidik PPNS, Gakkum Surabaya Kementrian KLHK. Sebelum penyitaan dilakukan briefing sebanyak dua kali.

Sepengetahuan saksi tim gabungan dibentuk tanggal 2 Januari 2019. Tiga hari kemudian, tepatnya 5 Januari 181 kayu disita di depo milik SPILL. Dua kontainer milik CV ATI dan CV STI dibuka guna memastikan isinya, dan didapati adalah kayu moulding (kayu olahan).

Menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum terkait proses lebih lanjut dari kasus kayu, saksi mengakui tidak dilibatkan pada saat gelar perkara.

Saksi kedua, Luqman Agusta pada pokoknya menerangkan ada operasi pengamanan peredaran hasil hutan, saksi berhasil mengamankan 181 kontainer kayu milik CV ATI dan CV STI.

Tangggal 5 kayu disita di pelabuhan Surabaya, sedangkan tanggal 6 dan 7 tim melakukan pemeriksaan di Sorong-Papua Barat. Kayu yang berada di kontainer seperti diakui saksi kondisinya halus, sudah di olah, namanya kayu moulding.
Saat pemeriksaan di Sorong bersama-sama dengan tim di Sorong yang dipimpin Pak Moza. Setelah diperiksa, kayu selanjutnya di police line pada tanggal 10 Januari.

Saksi membenarkan bahwa kedua perusahaan tersebut memiliki izin pengolahan kayu. Setahu saksi pemilik CV ATI dan CV STI adalah Henoch Budi Setyawan alias Mingho anak Parman.

Hasil pengukuran tim di CV ATI di dapatkan 1.000 kubik kayu pacak, sedangkan 26.000 kubik kayu pacak dan 6.000 kayu moulding di gudang CV STI. Saksi secara tegas mengatakan tetap pada keterangannya. Meski demikian, saksi bisa membedakan kondisi kayu.
Dicecar pertanyaan JPU terkait, alasan saksi diperintahkan ke Sorong pada tanggal 7 Januari, saksi pun menjawab tidak tahu.

Setelah dibuka 3 kontainer kayu pada tanggal 5 Januari 2019, berselang beberapa hari kemudian seluruh kontainer dibuka.

Sementara saksi ketiga, Joko Pulunggono menerangkan diperintahkan oleh Direktorat PPH Kementrian KLHK untuk menemani tim mengecek lokasi industri kayu. Selain saksi ada penyidik lainnya, Lukman dan Erwin. Pemeriksaan dilakukan karena ada laporan diduga kayu merupakan hasil pembalakan liar di CV ATI dan sementara saksi ketiga, Joko Pulunggono menerangkan diperintahkan oleh Direktorat PPH Kementrian KLHK untuk menemani tim mengecek lokasi industri kayu.

Selain saksi ada penyidik lainnya, Lukman dan Erwin. Pemeriksaan dilakukan karena ada laporan diduga kayu merupakan hasil pembalakan liar di CV ATI dan CV STI.

Dalam pemeriksaan ditemukan kayu pacakan, kayu gergajian dan moulding. Setelah itu, pengukuran. Saksi ketiga tidak tahu berapa jumlah kayu di dua perusahaan tersebut. Mingho adalah pemilik perusahaan.

Ada industri primer dan sekunder. Industri primer menghasilkan kayu gergajian. Berbeda dengan industri sekunder yang menghasilkan kayu olahan. Pemeriksaan tanggal 7 Januari 2019 di CV ATI dan STI tidak menemukan terdakwa.

Pemeriksaan bertujuan untuk mengkroscek data, apakah sama dengan fisik di lapangan guna kepentingan penyidikan. Kami tidak bisa menanyakan langsung mengenai hasil penyidikan karena bukan tupoksinya. Kami hanya menjalankan perintah pimpinan.

Izin primer otomatis ada, sama halnya dengan sekunder yang menghasilkan kayu moulding pasti memiliki izin. Kesimpulannya, ada perbedaan jumlah kayu antara yang dilaporkan dengan fisiknya.

Data perbedaan laporan yang mengetahui adalah penyidik PPNS. Tetapi sepengetahuan saksi, mendengar dari penyidik, perbedaannya jauh. Bahkan satu dari dua perusahaan ditemukan laporannya nihil.

Usai mendengar keterangan para saksi, ketua majelis hakim, Hanifzar menunda persidangan hingga Rabu tanggal 26 Juni 2019 dengan agenda yang sama pemeriksaan saksi.

Kepala Seksi Pidana Umum yang juga koordinator JPU, Buyung Anjar Purnomo, S.H ketika dikonfirmasi awak media terkait berapa banyak saksi yang dihadirkan di persidangan mengaku sebanyak 25.Sidang minggu depan masih dengan agenda yang sama, mendengarkan keterangan saksi,” jawabnya singkat.

Hadir dalam persidangan, tim penasihat hukum terdakwa, Alexi Sasube, S.H dan Romy Habary, S.H, sedangkan JPU, Anjar Buyung Purnomo, S.H dan Erly Andika, S.H. (red)


Bagikan ini...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.